Friday, April 2, 2021

 

Catat Impianmu, Maksimalkan Usahamu, Dan Langitkan Do’amu

Ratu Madaniyyah (ratumadaniyyah@gmail.com)

 

Teringat jelas bayangan empat tahun yang lalu, yaitu masa-masa dimana saya hampir putus asa, hampir menyerah dan pasrah. Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia bagi saya dan beberapa teman kelas saya. Pengumuman siapa saja siswa yang bisa mengikuti SNMPTN baru saja dilangsungkan dua hari sebelumnya. Belum sempat saya memilih Universitas mana yang akan saya arungi, datanglah kabar bahwa saya dan teman-teman kelas tidak bisa menikmati jalur undangan itu. Hanya saya dan teman-teman kelas saya, sedangkan teman-teman kelas lain masih bisa menggapai mimpinya melalui jalur SNMPTN. Alasannya kenapa? Karena saya jurusan IIK (Ilmu-Ilmu Keagamaan).

Satu-satunya jalan yang bisa menjembatani saya untuk menginjakkan kaki di PTN pupus sudah. Saya sempat down, kecewa, dan sedih. Tapi dari peristiwa ini saya belajar bahwa akan ada banyak hal tak terduga dalam kehidupan. Mungkin saja Allah menyiapkan jalan terbaik menurut-Nya untuk mengabulkan do’a-do’a kita. Dan saya mengalami hal itu. Alhamdulillah setelah bangkit dan berjuang selama dua bulan, Allah mengizinkan saya untuk belajar di jurusan dan Universitas yang saya inginkan melalui jalur SBMPTN, Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta.

Sejak menduduki bangku TPA, pelajaran bahasa Arab sudah menjadi pelajaran favorit saya. Saya dikenalkan dengan kosakata-kosakata dasar dan Arab Pegon/Jawi. Dari situ lah benih-benih kecintaan saya terhadap bahasa Arab mulai tumbuh. Setelah berada di jurusan yang saya inginkan, ternyata mendalami bahasa Arab tidak semudah yang dibayangkan, dan modal cinta saja tidak cukup, hehe. Ada banyak halangan dan rintangan. Salah satu contohnya adalah ketika teman-teman lulusan pondok pesantren lebih cepat memahami penjelasan dosen dibanding saya. Oleh karena itu, saya harus belajar lebih ekstra dan lebih lama dibanding mereka. Jika mereka belajar 5 jam lamanya, maka saya harus belajar 7 jam.

Selain itu, salah satu penunjang yang sangat membantu saya adalah Asrama Mathla-Qu UNJ. Di asrama ini lah saya dididik dan dibimbing. Menghafalkan banyak kosakata, latihan berbicara dengan menggunakan bahasa Arab, bahkan seringkali didatangkan pengajar berbangsa Arab, jadi bisa sambil latihan istima’ (menyimak) juga. Apa-apa yang tidak saya ketahui atau belum saya pahami di kelas selalu saya tanyakan di sini. Dan Alhamdulillah atas izin Allah segala sesuatunya dimudahkan. Sebenarnya saya bukan orang yang terlalu ambisius, hanya saja saya tidak ingin mengecewakan orangtua, keluarga dan orang-orang yang sudah banyak mendo’akan saya. Saya harus menyelesaikan apa-apa yang sudah saya mulai. Selama hal itu baik, saya yakin Allah selalu membersamai saya.

Menjadi lulusan terbaik di Prodi Pendidikan Bahasa Arab dan lulus 3,5 tahun merupakan sebuah kebanggaan bagi saya. Saya persembahkan ini semua hanya untuk kedua orangtua saya. Merekalah sumber kekuatan dan penyemangat ketika lelah. Saya memiliki satu kebiasaan yang saya lakukan sejak SMA yaitu mencatat impian-impian di buku. Kebiasaan ini cukup ampuh menjadi pengingat ketika saya mulai lengah. Saya hampir lupa berapa orang yang pernah meminjam buku kuliah saya. Mereka pasti membuka dan melihat halaman pertama ini. Mungkin saja dari sekian impian saya yang terjwujud itu karena do’a-do’a mereka.



Merasa lelah itu wajar, beristirahatlah sejenak dan jangan lupa lanjutkan kembali perjuangan yang telah dimulai. Ingat-ingat tujuan dan impian kita ketika berada di suatu tempat. Maksimalkan setiap langkah dan usaha agar hasilnya tidak mengecewakan. Kemudian sempurnakan dengan banyaknya do’a yang dilangitkan. Satu kuncinya, selalu yakin dalam hati dan jangan sisakan sedikit ruang pun untuk ragu. Semoga Allah senantiasa memudahkaan, Aamiin😊