Wednesday, July 22, 2020

Sebuah Kisah Klasik Tentang Mimpi dan Harapan


10 Kisah Tentang Mimpi dan Harapanku


Oleh : Siti Khumairotuzzahra, S.Pd.
(sitikhumairotuzzahra@gmail.com

Aku Humairotuzzahra, lebih akrabnya aku dipangil zahra, aku adalah seorang pemimpi yang sedang dan akan terus berusaha memperjuangkan mimpiku. Aku hidup dalam keluarga sederhana yang cukup berpendidikan. Orang tuaku pernah berkata "warisan yang paling berharga untuk anaknya adalah ilmu yang bermanfaat", dari kecil orang tuaku selalu mendidikku untuk menjadi anak yang berpendidikan. Namun, mereka tidak pernah memaksaku untuk menjadi yang terbaik. Bagi mereka sudah menjadi baik dan sangat baik itu sudah cukup yang penting aku dan adikku azhar tidak pernah melakukan hal yang diluar batas. Sampai akhirnya, saat aku masih duduk di taman kanak-kanak aku sudah menanamkan mimpiku sendiri, akupun sudah mulai berkaca dari kaka-kaka sepupuku yang sangat berprestasi. Hal kecil itu aku terus tanamkan pada diriku ya aku harus bisa seperti mereka, hingga mimpi pertamaku terkabul pada Madrasah Ibtidaiyah aku mendapatkan juara kelas. Akan tetapi, perlakuan orang tuaku sangat berbeda dengan perlakuan orang tua pada umumnya, mungkin setiap anak yang juara kelas pada saat itu akan diberi sebuah hadiah agar mereka terus bersemangat. Berbeda dengan orang  tuaku, yang cukup memujiku dengan berkata "alhamdulillah semoga bisa lebih baik dan dipertahankan". Anehnya, aku  tidak pernah bersedih akan hal itu,  justru hal tersebut membuatku lebih semangat dan ingin memberikan yang terbaik bagi orang tuaku.

Mimpi keduaku "never say give up and be optimistic" jangan pernah menyerah dan tetap optimis. Saat aku masuk pondok pesantren modern Daarul Uluum Lido Bogor, yah... setiap anak yang akan masuk pesantren pastinya akan lebih memikirkan apakah aku akan betah disana? Apa aku bisa menjadi anak mandiri? Semua kata-kata itu seolah terbenak dalam pikiraku, tidak cukup sampai disana ternyata masih banyak rintangan yang perlu aku lalui saat berjuang di pondok pesantren. Hal itu bermulai pada saat kelas 6 MI aku pernah mengalami kecelakaan sampai akhirnya kakiku patah, tapi tekadku untuk masuk pesantren tetap kupertahankan. Ternyata kakiku belum sembuh total,aku pernah memakai kursi roda saat sekolah, memakai tongkat saat itu bahkan didiagnosa cacat oleh dokter, aku sering izin pulang dan tidak masuk kelas. Jelas hal itu sangat menggangguku bahkan sangat mengganggu mentalku saat itu tetapi semua pikiran negatif pada diriku aku buang jauh-jauh, aku yakin aku pasti akan sembuh, belajar lebih giat lagi walaupun harus otodidak dan aku bisa mengisi hariku dengan hobby yang menjadi passionku.  Ternyata Allah mengabulkan doaku dan melihat semua perjuangaku, aku sembuh dan masih bisa bertahan hingga aku mendapatkan prestasi akademik dan non akademik serta menjadi wisudawan berpredikat Mumtaz.

Mimpi ketigaku, "struggle without sacrifice is nonsense" perjuangan tanpa pengorbanan adalah sia-sia. Kini aku menjadi alumni disalah satu universitas negeri di jakarta. Aku masih ingat bagaimana perjuangaku untuk bisa masuk salah satu universitas negeri,tentunya hal paling sulit bagi para santri adalah untuk masuk perguruan tinggi negeri. Banyak sekali santri yang tidak dapat masuk perguruan tinggi melalui SBMPTN, bahkan masuk melalui jalur mandiri pun masih sulit. Apalagi aku sempat mengabdi menjadi pengajar grammar dan bahasa arab di pondok. Aku gagal masuk perguruan tinggi melalu SBMPTN, tapi semangatku untuk dapat berkuliah di perguruan tinggi negeri tidak berhenti saat itu juga. Sebelum aku menentukan pilihan kampus mana dan jurusan apa yang aku pilih, jujur aku sangat yakin aku ingin studi sesuai dengan passionku yaitu masuk jurusan pendidikan bahasa  inggris tetapi skenario Allah berbeda aku tidak masuk jurusan bahasa inggris,  dua kampus negeri di jakarta dan bandung menerimaku untuk masuk jurusan pendidikan bahasa arab. Tidak apa-apa, berarti Allah merancang jalanku untuk memperdalam ilmu bahasa arabku dan aku memutuskan untuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta .

 Pada awal masuk perkuliahan merupakan hal yang sangat indah untuk mengenal organisasi dan banyak aktivitas lainnya. Aku tetap melanjutkan bakat dan minatku dalam dunia MC, Public Speaking maupun debat dan aku harus membiasakannya dengan menggunakan bahasa Arab. Aku pernah menjadi ketua angkatan dan staff BEM Fakultas Bahasa dan Seni pada divisi bakat dan minat. Disamping  itu, aku tetap berjuang untuk mendapatkan IPK tinggi dan alhamdulillah setiap semester aku mendapatkan nilai IPK 3,5-3,8. O ya aku masih ingat setiap liburan aku tidak pernah memiliki waktu full liburan, setiap waktu yang kumiliki aku manfaatkannya untuk mengikuti banyak kegiatan karena bagiku masa muda ini adalah the gold time yang menuntutku untuk aktif bergerak bukan diam ditempat. Mulai pada semester 1 mengikuti perlombaan debat bahasa arab walaupun aku tidak terbiasa menggunakan bahasa arab pada saat debat. Tepat saat itu aku merasa i feel nothing melihat lawan debatku yang luar biasa dan bahasa debatku yang masih terbatas. Namun, aku tetap berusaha sering sekali aku kalah dalam perlombaan debat dan beberapa kali aku menang hingga akhirnya aku  mewakili UNJ dalam debat bahasa arab di MTQN Nasional.

Selanjutnya, aku mencoba mengikuti pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat, saat itu aku menjadi salah satu kontestan termuda dan terpilih dari 400 peserta, lolos 100 besar sampai 16 besar, melihat lawan yang begitu hebat membuatku sangat ragu , namun semua keraguan sirna setalah aku ingat dukungan orangtuaku dan keluargaku, aku menjadi juara harapan 2 Duta Bahasa Jawa Barat dan bahasa arab sebagai bahasa pengatarku saat itu. Semester selanjutnya aku mencoba menjadi Volunteer Asian Games 2018 dan juga penerjemah bahasa asing di Asian Games 2018, disaat perjalananku untuk menjadi volunteer aku terpilih menjadi presenter pada International Student Seminar yang diadakan oleh Osaka University Of Economics And Law, sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga bertemu dengan teman-teman dari negara-negara asia dan eropa walaupun aku tetap harus membagi waktu diantara kesibukanku. Setelah itu hal yang sangat tidak disangka-sangka tepatnya setelah aku menyelesaikan tugasku pada International Student Seminar aku terpilih menjadi delegasi indonesia dan UNJ pada International Universities  Arabic Debating Championship Qatar Debat di Doha Qatar. Kami sempat melawan berbagi universitas nermana dari eropa, amerika, australia dan asia. Hal yang paling tidak disangka dalam hidupku dan pengalaman yang takkan pernah terlupakan, UNJ menempati ke 16 dalam kategori non native speaker.  Dibalik semua kegiatan yang telah aku lalui tentunya masih banyak krikil yang harus aku hadapi dan krikil itu membuatku untuk lebih kuat lagi dan lagi.

Harapanku selanjutnya adalah mendapatkan beasiswa agar aku bisa meringankan beban orang tuaku. Setelah aku menjadi Duta Bahasa Jawa Barat dan mendapatkan juara harapan 2, fakultas memberikan ku sebuah penghargaan yaitu mendapatkan beasiswa PPA. Namun, beasiswa PPA tidak bertahan lama dan hanya memberikan dana bantuan selama satu semester. Aku mencoba mencari berbagai informasi mengenai beasiswa, beberapa kali aku tidak diterima, mungkin karena persaingan yang sangat ketat dan jumlah mahasiswa yang  mendaftar banyak menjadi salah satu faktornya. Aku terus mencoba lagi dan lagi, hingga aku mendapatkan beasiswa dari Women International Club Jakarta selama beberapa semester.

Ini merupakan sebuah kisah berharga selanjutnya tepat pada masa akhir semester, kala aku menyiapkan skripsiku. Aku berusaha dan berdoa agar bisa lulus 3.5 tahun dan aku sangat bersyukur telah dididik oleh dosen-dosen PBA yang luar biasa, aku ingin skripsiku merupakan karya akhir terbaik dan sebuah persembahan untuk kampus. Setelah skripsi aku menjalani sidang dan yudisium, sungguh Allah mengabulkan mimpiku, satu persatu doaku terjawab. Semua proses yang telah dilalui dan pengorbanan mengantarku mendapatkan prestasi pada KKM tertinggi peringkat ke 3 serta menjadi lulusan terbaik ke-2. Orang tuaku pernah berkata bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil dan ini merupakan sebuah persembahan untuk kedua orang tuaku serta guru-guru yang telah mendidikku.

Teruntuk semua yang telah membaca kisah klasik tentang mimpiku percayalah tiada salahnya menjadi seorang pemimpi, asalkan tetap menanamkan man jadda wajada dalam perjuanganmu. semua perjuagan, rintangan bahkan pengorbanan akan mengantarmu pada semua angan yang kau miliki, walaupun terkadang mimpi itu tidak semuanya sesuai dengan apa yang diharapkan, tapi Allah telah menyiapkan mimpi terbaik lainnya. Percayalah ada bongkahan berlian indah pada dirimu yang harus kau temukan, dan percayalah Allah telah menganugerahkan potensi indah pada dirimu, setiap orang berbeda-beda namun setiap orang memiliki mimpi dan prestasi yang berbeda. Jangan pernah menyerah pada sebuah keputus asaan dan semua rintangan. Ingat! Akupun pernah gagal tapi percayalah kegagalan itu merupakan awal dari kesuksesan seorang pemimpi.  Lalu, jangan pernah mencoba menjatuhkan siapapun dalam perjalanan mimpiku, menjadi diri sendiri dan menghargai orang lain adalah cara terbaik untuk menjadi pemimpi yang terbaik.

    




Friday, July 17, 2020

WUJUDKAN MIMPIMU MENJADI NYATA

Bermimpi itu gratis, mimpi itu tak terbatas,
jadi mimpikanlah impian kita setinggi-tingginya!

WUJUDKAN MIMPIMU MENJADI NYATA

Oleh : Meryn Nurhidayanti, S.Pd.
(meryn.nurhidayani@gmail.com)

Berbicara tentang mimpi tentunya setiap orang memiliki impian, harapan dan cita-citanya masing-masing dan termasuk juga saya. Saya Meryn Nurhidayani yang mempunyai banyak mimpi dan salah satu impian terbesar saya adalah membanggakan kedua orang tua saya dan mengangkat tinggi derajat mereka. Karna saya adalah anak satu-satunya dan harapan satu-satunya di keluarga kecil saya.
Lalu saya berfikir bagaimana mewujudkan mimpi itu?
Dari kecil saya bertekad dan berusaha untuk bisa menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, berdiri sendiri tanpa harus bergantung dengan orang yang lain, berjuang tanpa kenal putus asa dan rasa takut, semua itu saya tanamkan dalam diri saya. Sampai hari dimana tangis bahagia itu datang dari kedua orang tua saya yang bangga saat melihat anaknya menjadi salah satu santri lulusan terbaik di pesantren. Saya bersyukur karna salah satu mimpi saya menjadi kenyataan, namun dibalik semua itu perjuangan yang sebenarnya baru dimulai dan impian itu semakin bertambah.
Karena saya lulusan dari pesantren maka saya diharuskan mengabdi terlebih dahulu selama 1 tahun di Islamic Boarding School Mts N 31 Jakarta sebelum melanjutkan kuliah. Sedih yang saya rasakan karena harus berpisah jauh dari orang tua dan tinggal di kota. Pada awalnya saya juga khawatir, akankah menunda satu tahun itu bisa menghambat kuliah saya?, namun semua itu “salah” tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, apalagi untuk belajar. Dan selama satu tahun itu saya gunakan untuk mengembangkan diri saya dengan belajar, mengajar dan merencanakan hidup saya kedepannya, sehingga saya bisa memilih jalan mana yang akan saya tempuh terutama akan dimanakah saya melanjutkan kuliah dan jurusan apa yang saya akan ambil.
Satu langkah awal saya adalah dengan mendaftarkan diri saya di kampus negeri, meski kemungkinan bisa diterima itu kecil karna saya dari pesantren dan harus bersaing melawan lulusan dari sekolah negeri di seluruh Indonesia, namun saya tetap mencobanya. Dan alhamdulillah usaha itu dapat membuahkan hasil manis. Saya memutuskan untuk tetap melanjutkan pengabdian saya sekaligus kuliah saya, karena saya ingin membantu orang tua saya untuk meringankan beban biaya kuliah saya dan karena mengajar merupakan tugas yang mulia, bahkan Iman al-Ghazali mengumpamakan guru pengajar ibarat matahari sebagai sumber kehidupan dan penerang di langit dan bumi. Akan tetapi kembali terbesit dalam benak saya, apakah saya mampu membagi waktu saya untuk mengabdi di pesantren dan kuliah? Jawabannya tergantung pada niat dan kenyakinan, maka dari itu saya niatkan dan yakinkan diri saya, bahwa saya mampu dan bisa melakukannya.
"إنما الأعمال بالنيات"
Setelah saya diterima di kampus dan menjadi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta, saya bersyukur karena saya bisa mengambil jurusan yang sesuai dengan passion saya, namun saya menyadari bahwa saya bukanlah siapa-siapa, masih banyak diluar sana yang jauh lebih baik dari saya, sehingga memotivasikan diri ini agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
Lalu saya menulis daftar impian dan target tujuan hidup saya, apa yang saya harapkan saya tulis di memo dan notebook. Saya menuliskan banyak mimpi seperti : mendapat IPK bagus, ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi, memenangkan perlombaan, aktif di organisasi, pergi ke luar negeri, lulus tepat waktu, menjadi lulusan terbaik dll.
Semua itu pastinya sangat sukar untuk menggapainya, karna mewujudkan mimpi itu tak semudah membalikan telapak tanganTapi bermimpi itu gratis, mimpi itu tak terbatas, jadi mimpikanlah impian kita setinggi-tingginya!


Dan sekarang tinggal bagaimana cara kita menggapai mimpi itu, butuh perjuangan, usaha, jerih payah, keringat, dan kuat mental karena saat meraihnya kita akan dihadapkan dengan berbagai macam masalah. Saat pertama kali memasuki dunia kampus, kita akan dihadapkan pada dua pilihan, apakah kita akan menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) atau mahasiswa kura-kura (kuliah rapat kuliah rapat) yang aktif dalam berorganisasi. Dan jika saya ingin meraih mimpi saya, maka jalannya haruslah aktif di akademik maupun non akademik.
Satu langkah kecil saya ambil dengan mengikuti kursus di PBM (Pengembangan Bakat dan Minat) PBA, dalam bidang debat, pidato, menyanyi dan baca berita Bahasa Arab. Dan mengikuti Organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) PBA UNJ. Meski lelah karena setiap hari harus mengikuti latihan dan agenda kampus sekaligus mengajar di pesantren namun saya yakin semua usaha saya akan bermanfaat untuk kedepannya.
Pada awal semester 2016 saya memberanikan diri untuk ikut lomba debat Bahasa Arab tingkat Univ, meski ragu dan merasa masih kurang memumpuni karena masih mahasiswa baru dan harus melawan kakak kelas yang jauh lebih berpengalaman, namun saya niatkan perlombaan ini sebagai batu loncatan saya untuk menambah pengalaman walau nantinya harus kalah. Akan tetapi siapa sangka tim saya mendapatkan juara ketiga. Dari sini kita ketahui bahwa “if there is will there is a way”.
Saya kembali mengumpulkan tekad saya untuk bisa melangkah lebih maju lagi, yaitu dengan mengikuti lomba debat Bahasa Arab di tingkat nasional. Tentunya dengan latihan rutin bersama tim debat. Namun hasilnya kekalahan dan kegagalanlah yang kita terima.
Semester 2, semester 3, sampai semester 4 saya mencoba lagi mengikuti perlombaan tingkat nasional namun hasilnya sama, tim kita belumlah berhasil. Sempat terlintas di fikiran saya untuk menyerah karena ada masanya seseorang itu merasa terpuruk dan jatuh, lelah pada keadaan yang terus memaksakan diri untuk terus bergerak, dan seringnya dihadapkan pada pilihan yang sulit, memilih sesuatu sekaligus mengorbankan sesuatu. Seperti mengorbankan waktu istirahat, berkumpul dengan teman dan keluarga karena harus belajar, mengajar dan mengikuti kegiatan kampus. Namun semua itu saya urungkan. Tekad dan mimpi saya jauh lebih kuat dibandikan keputusasaan saya. Semangat  untuk kembali bangkit itu semakin membara kala mengingat orang yang kita sayangi sedang menunggu kesuksesaan kita yaitu keluarga.
Setiap kegagalan yang saya terima akan saya jadikan sebuah pelajaran untuk memperbaiki setiap kekurangan dan membenahi potensi diri. Dan pada semester 5 saya mencoba kembali mengikuti lomba debat Bahasa Arab tingkat univ, dan alhamdulillah tim saya berhasil membawa pulang piala juara kedua dan pemenangnya akan diseleksi untuk mengikuti lomba di MTQ N Aceh 2019. Pada semester kelima  juga kita berhasil mendapat juara ketiga dalam debat Bahasa Arab tingkat nasional dan untuk pertama kalinya alhamdulillah saya bisa memenangkan juara pertama lomba baca berita Bahasa Arab di tingkat nasional. Di akhir tahun 2018 pula alhamdulillah saya berhasil membawa 3 piala sekaligus di ajang perlombaan YALBI (Yaumul ‘Alam ‘Arabi) PBA UNJ.
Sesunggunya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, berlatih tanpa kenal lelah karna “practice make perfect” dan “experience is the best teacher”.
Dan mimpi yang tidak pernah disangka-sangka akan terwujud adalah bisa pergi ke Luar Negeri, alhamdulillah tim UNJ mendapat kesempatan untuk bisa mengikuti perlombaan di Qatar Debate 2019. Sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya karena mendapat kesempatan yang sangat berharga ini, namun sekaligus beban berat untuk saya dan tim saya  karena akan mewakilkan nama Indonesia di kancah Internasional.
Satu persatu mimpi saya terwujud, namun saya belumlah sampai pada tujuan akhir saya. Perjalanan ini masih sangat panjang. Semester 7 adalah puncaknya, saya ingin menyelesaikan studi saya 3,5 tahun, agar kedepannya saya bisa membantu finansial keluarga saya dan berharap bisa melanjutkan studi saya. Meski banyak rintangan dan hambatan saat menyelesaikan skripsi, tapi  alhamdulillah saya bisa berhasil menyelesaikannya tepat waktu dan mengikuti sidang skripsi. semua itu berkat bimbingan, dukungan dan do’a dari para dosen PBA, dosen pembimbing, keluarga dan teman-teman.
Sampai hari yang dinanti-nantikan itu datang, hari dimana dilaksankannya yudisium program sarjana dan magister fakultas bahasa dan seni. Yang mana acara ini bukan hanya sekedar yudisim saja namun juga sebagai ajang pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi lulusan FBS UNJ. Pertanyaan itu muncul kembali, apakah saya bisa menjadi salah satu yang terbaik di antara yang terbaik? Apakah jerih payah dan usaha saya selama ini dapat membuahkan hasil? Apakah saya bisa mewujudkan mimpi saya?
Pengumuman demi pengumuan telah dibacakan dari kategori penghargaan IPK tertinggi dan kategori KKM tertinggi. saya berdoa dalam hati saya, semoga nama saya bisa disebutkan, minimal meraih peringkat ketiga. Sampai di kategori terakhir yaitu penghargaan untuk lulusan terbaik FBS UNJ. Sayangnya peringkat 3 bukanlah saya orangnya, peringkat 2 juga bukanlah saya orangnya melainkan teman duduk samping saya, saya bangga atas pencapaian sahabat saya yang mana sekaligus teman seperjuangan saya. dan peringkat 1 dibacakan, saat itu pupuslah harapan saya karena saya berfikir sudah pasti bukanlah saya orangnya. Saya sadar, sangat sulit meraih peringkat lulusan terbaik 1 itu apalagi kategori ini adalah hasil dari kombinasi nilai IPA (Indeks Prestasi Akhir) tertinggi dan KKM (Kredit Keaktifan Mahasiswa) tertinggi dan peluangnya kecil jika dilihat dari banyaknya lulusan FBS pada semester ini. Sejujurnya seimbang antara nilai akademik dan non akadmik itu susah, kita harus aktif berorganisasi dan kegiatan kampus tanpa mengesampingkan belajar kita untuk mengejar IPK bagus.
Akan tetapi dugaan saya salah, nama Meryn Nurhidayani disebutkan di depan untuk menerima penghargaan lulusan terbaik 1 FBS. Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Seolah-olah seperti mimpi yang rasakan saat itu, menangis terharu karena rasa bahagia. Dream comes true lebih tepatnya.
Dan siapa sangka impian-impian yang dulu saya tulis itu semunya menjadi nyata dan jelas di depan mata. Sesunggunya usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
"بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى"
“Seberapa besar usahamu, maka sebesar itu pula yang akan kau dapatkan”
Usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha itu bohong. Setelah berusaha dan berdoa selanjutnya bertawakalah kepada Allah ikhlas menerima apapun hasilnya serta selipkan sholawat pada setiap harapan dan impian kita. We can dream the biggest dream, paint the largest picture and make endless possibilities come true.
Tulisan ini hanya sebagian dari kisah perjuangan saya, masih banyak lagi pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan di dunia perkuliahan. Akan tetapi, semoga tulisan ini dapat motivasi dan memberikan dorongan semangat untuk kalian dalam belajar, aktif di berbagai kegiatan,berprestasi dan terus mencari pengalaman, sukses untuk kita semua. Teruslah bermimpi kawan!, jangan pernah berhenti bermimpi!, believe in yourself that you can do it!