10 Kisah Tentang Mimpi dan Harapanku
Aku Humairotuzzahra, lebih akrabnya aku dipangil zahra,
aku adalah seorang pemimpi yang sedang dan akan terus berusaha memperjuangkan
mimpiku. Aku hidup dalam keluarga sederhana yang cukup berpendidikan. Orang
tuaku pernah berkata "warisan yang paling berharga untuk anaknya adalah
ilmu yang bermanfaat", dari kecil orang tuaku selalu mendidikku untuk
menjadi anak yang berpendidikan. Namun, mereka tidak pernah memaksaku untuk
menjadi yang terbaik. Bagi mereka sudah menjadi baik dan sangat baik itu sudah
cukup yang penting aku dan adikku azhar tidak pernah melakukan hal yang diluar
batas. Sampai akhirnya, saat aku masih duduk di taman kanak-kanak aku sudah menanamkan
mimpiku sendiri, akupun sudah mulai berkaca dari kaka-kaka sepupuku yang sangat
berprestasi. Hal kecil itu aku terus tanamkan pada diriku ya aku harus bisa
seperti mereka, hingga mimpi pertamaku terkabul pada Madrasah Ibtidaiyah aku
mendapatkan juara kelas. Akan tetapi, perlakuan orang tuaku sangat berbeda
dengan perlakuan orang tua pada umumnya, mungkin setiap anak yang juara kelas
pada saat itu akan diberi sebuah hadiah agar mereka terus bersemangat. Berbeda dengan
orang tuaku, yang cukup memujiku dengan
berkata "alhamdulillah semoga bisa lebih baik dan dipertahankan".
Anehnya, aku tidak pernah bersedih akan
hal itu, justru hal tersebut membuatku
lebih semangat dan ingin memberikan yang terbaik bagi orang tuaku.
Mimpi keduaku "never say give up and be
optimistic" jangan pernah menyerah dan tetap optimis. Saat aku
masuk pondok pesantren modern Daarul Uluum Lido Bogor, yah... setiap anak yang
akan masuk pesantren pastinya akan lebih memikirkan apakah aku akan betah
disana? Apa aku bisa menjadi anak mandiri? Semua kata-kata itu seolah terbenak
dalam pikiraku, tidak cukup sampai disana ternyata masih banyak rintangan yang
perlu aku lalui saat berjuang di pondok pesantren. Hal itu bermulai pada saat
kelas 6 MI aku pernah mengalami kecelakaan sampai akhirnya kakiku patah, tapi
tekadku untuk masuk pesantren tetap kupertahankan. Ternyata kakiku belum sembuh
total,aku pernah memakai kursi roda saat sekolah, memakai tongkat saat itu
bahkan didiagnosa cacat oleh dokter, aku sering izin pulang dan tidak masuk
kelas. Jelas hal itu sangat menggangguku bahkan sangat mengganggu mentalku saat
itu tetapi semua pikiran negatif pada diriku aku buang jauh-jauh, aku yakin aku
pasti akan sembuh, belajar lebih giat lagi walaupun harus otodidak dan aku bisa
mengisi hariku dengan hobby yang menjadi passionku. Ternyata Allah mengabulkan doaku dan melihat
semua perjuangaku, aku sembuh dan masih bisa bertahan hingga aku mendapatkan
prestasi akademik dan non akademik serta menjadi wisudawan berpredikat Mumtaz.
Mimpi ketigaku, "struggle without sacrifice is
nonsense" perjuangan tanpa pengorbanan adalah sia-sia. Kini aku
menjadi alumni disalah satu universitas negeri di jakarta. Aku masih ingat
bagaimana perjuangaku untuk bisa masuk salah satu universitas negeri,tentunya
hal paling sulit bagi para santri adalah untuk masuk perguruan tinggi negeri. Banyak
sekali santri yang tidak dapat masuk perguruan tinggi melalui SBMPTN, bahkan
masuk melalui jalur mandiri pun masih sulit. Apalagi aku sempat mengabdi
menjadi pengajar grammar dan bahasa arab di pondok. Aku gagal masuk perguruan
tinggi melalu SBMPTN, tapi semangatku untuk dapat berkuliah di perguruan tinggi
negeri tidak berhenti saat itu juga. Sebelum aku menentukan pilihan kampus mana
dan jurusan apa yang aku pilih, jujur aku sangat yakin aku ingin studi sesuai
dengan passionku yaitu masuk jurusan pendidikan bahasa inggris tetapi skenario Allah berbeda aku
tidak masuk jurusan bahasa inggris, dua
kampus negeri di jakarta dan bandung menerimaku untuk masuk jurusan pendidikan
bahasa arab. Tidak apa-apa, berarti Allah merancang jalanku untuk memperdalam
ilmu bahasa arabku dan aku memutuskan untuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta
.
Pada awal masuk perkuliahan merupakan hal yang sangat indah untuk mengenal organisasi dan banyak aktivitas lainnya. Aku tetap melanjutkan bakat dan minatku dalam dunia MC, Public Speaking maupun debat dan aku harus membiasakannya dengan menggunakan bahasa Arab. Aku pernah menjadi ketua angkatan dan staff BEM Fakultas Bahasa dan Seni pada divisi bakat dan minat. Disamping itu, aku tetap berjuang untuk mendapatkan IPK tinggi dan alhamdulillah setiap semester aku mendapatkan nilai IPK 3,5-3,8. O ya aku masih ingat setiap liburan aku tidak pernah memiliki waktu full liburan, setiap waktu yang kumiliki aku manfaatkannya untuk mengikuti banyak kegiatan karena bagiku masa muda ini adalah the gold time yang menuntutku untuk aktif bergerak bukan diam ditempat. Mulai pada semester 1 mengikuti perlombaan debat bahasa arab walaupun aku tidak terbiasa menggunakan bahasa arab pada saat debat. Tepat saat itu aku merasa i feel nothing melihat lawan debatku yang luar biasa dan bahasa debatku yang masih terbatas. Namun, aku tetap berusaha sering sekali aku kalah dalam perlombaan debat dan beberapa kali aku menang hingga akhirnya aku mewakili UNJ dalam debat bahasa arab di MTQN Nasional.
Selanjutnya, aku mencoba mengikuti pemilihan Duta Bahasa
Jawa Barat, saat itu aku menjadi salah satu kontestan termuda dan terpilih dari
400 peserta, lolos 100 besar sampai 16 besar, melihat lawan yang begitu hebat
membuatku sangat ragu , namun semua keraguan sirna setalah aku ingat dukungan
orangtuaku dan keluargaku, aku menjadi juara harapan 2 Duta Bahasa Jawa Barat dan
bahasa arab sebagai bahasa pengatarku saat itu. Semester selanjutnya aku
mencoba menjadi Volunteer Asian Games 2018 dan juga penerjemah bahasa
asing di Asian Games 2018, disaat perjalananku untuk menjadi volunteer
aku terpilih menjadi presenter pada International Student Seminar yang
diadakan oleh Osaka University Of Economics And Law, sungguh merupakan
pengalaman yang sangat berharga bertemu dengan teman-teman dari negara-negara
asia dan eropa walaupun aku tetap harus membagi waktu diantara kesibukanku.
Setelah itu hal yang sangat tidak disangka-sangka tepatnya setelah aku
menyelesaikan tugasku pada International Student Seminar aku terpilih
menjadi delegasi indonesia dan UNJ pada International Universities Arabic Debating Championship Qatar Debat
di Doha Qatar. Kami sempat melawan berbagi universitas nermana dari eropa,
amerika, australia dan asia. Hal yang paling tidak disangka dalam hidupku dan
pengalaman yang takkan pernah terlupakan, UNJ menempati ke 16 dalam kategori
non native speaker. Dibalik semua
kegiatan yang telah aku lalui tentunya masih banyak krikil yang harus aku
hadapi dan krikil itu membuatku untuk lebih kuat lagi dan lagi.
Harapanku selanjutnya adalah mendapatkan beasiswa agar
aku bisa meringankan beban orang tuaku. Setelah aku menjadi Duta Bahasa Jawa
Barat dan mendapatkan juara harapan 2, fakultas memberikan ku sebuah
penghargaan yaitu mendapatkan beasiswa PPA. Namun, beasiswa PPA tidak bertahan
lama dan hanya memberikan dana bantuan selama satu semester. Aku mencoba
mencari berbagai informasi mengenai beasiswa, beberapa kali aku tidak diterima,
mungkin karena persaingan yang sangat ketat dan jumlah mahasiswa yang mendaftar banyak menjadi salah satu faktornya.
Aku terus mencoba lagi dan lagi, hingga aku mendapatkan beasiswa dari Women
International Club Jakarta selama beberapa semester.
Ini merupakan sebuah kisah berharga selanjutnya tepat pada masa akhir semester, kala aku menyiapkan skripsiku. Aku berusaha dan berdoa agar bisa lulus 3.5 tahun dan aku sangat bersyukur telah dididik oleh dosen-dosen PBA yang luar biasa, aku ingin skripsiku merupakan karya akhir terbaik dan sebuah persembahan untuk kampus. Setelah skripsi aku menjalani sidang dan yudisium, sungguh Allah mengabulkan mimpiku, satu persatu doaku terjawab. Semua proses yang telah dilalui dan pengorbanan mengantarku mendapatkan prestasi pada KKM tertinggi peringkat ke 3 serta menjadi lulusan terbaik ke-2. Orang tuaku pernah berkata bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil dan ini merupakan sebuah persembahan untuk kedua orang tuaku serta guru-guru yang telah mendidikku.

