Friday, July 17, 2020

WUJUDKAN MIMPIMU MENJADI NYATA

Bermimpi itu gratis, mimpi itu tak terbatas,
jadi mimpikanlah impian kita setinggi-tingginya!

WUJUDKAN MIMPIMU MENJADI NYATA

Oleh : Meryn Nurhidayanti, S.Pd.
(meryn.nurhidayani@gmail.com)

Berbicara tentang mimpi tentunya setiap orang memiliki impian, harapan dan cita-citanya masing-masing dan termasuk juga saya. Saya Meryn Nurhidayani yang mempunyai banyak mimpi dan salah satu impian terbesar saya adalah membanggakan kedua orang tua saya dan mengangkat tinggi derajat mereka. Karna saya adalah anak satu-satunya dan harapan satu-satunya di keluarga kecil saya.
Lalu saya berfikir bagaimana mewujudkan mimpi itu?
Dari kecil saya bertekad dan berusaha untuk bisa menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, berdiri sendiri tanpa harus bergantung dengan orang yang lain, berjuang tanpa kenal putus asa dan rasa takut, semua itu saya tanamkan dalam diri saya. Sampai hari dimana tangis bahagia itu datang dari kedua orang tua saya yang bangga saat melihat anaknya menjadi salah satu santri lulusan terbaik di pesantren. Saya bersyukur karna salah satu mimpi saya menjadi kenyataan, namun dibalik semua itu perjuangan yang sebenarnya baru dimulai dan impian itu semakin bertambah.
Karena saya lulusan dari pesantren maka saya diharuskan mengabdi terlebih dahulu selama 1 tahun di Islamic Boarding School Mts N 31 Jakarta sebelum melanjutkan kuliah. Sedih yang saya rasakan karena harus berpisah jauh dari orang tua dan tinggal di kota. Pada awalnya saya juga khawatir, akankah menunda satu tahun itu bisa menghambat kuliah saya?, namun semua itu “salah” tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, apalagi untuk belajar. Dan selama satu tahun itu saya gunakan untuk mengembangkan diri saya dengan belajar, mengajar dan merencanakan hidup saya kedepannya, sehingga saya bisa memilih jalan mana yang akan saya tempuh terutama akan dimanakah saya melanjutkan kuliah dan jurusan apa yang saya akan ambil.
Satu langkah awal saya adalah dengan mendaftarkan diri saya di kampus negeri, meski kemungkinan bisa diterima itu kecil karna saya dari pesantren dan harus bersaing melawan lulusan dari sekolah negeri di seluruh Indonesia, namun saya tetap mencobanya. Dan alhamdulillah usaha itu dapat membuahkan hasil manis. Saya memutuskan untuk tetap melanjutkan pengabdian saya sekaligus kuliah saya, karena saya ingin membantu orang tua saya untuk meringankan beban biaya kuliah saya dan karena mengajar merupakan tugas yang mulia, bahkan Iman al-Ghazali mengumpamakan guru pengajar ibarat matahari sebagai sumber kehidupan dan penerang di langit dan bumi. Akan tetapi kembali terbesit dalam benak saya, apakah saya mampu membagi waktu saya untuk mengabdi di pesantren dan kuliah? Jawabannya tergantung pada niat dan kenyakinan, maka dari itu saya niatkan dan yakinkan diri saya, bahwa saya mampu dan bisa melakukannya.
"إنما الأعمال بالنيات"
Setelah saya diterima di kampus dan menjadi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Jakarta, saya bersyukur karena saya bisa mengambil jurusan yang sesuai dengan passion saya, namun saya menyadari bahwa saya bukanlah siapa-siapa, masih banyak diluar sana yang jauh lebih baik dari saya, sehingga memotivasikan diri ini agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
Lalu saya menulis daftar impian dan target tujuan hidup saya, apa yang saya harapkan saya tulis di memo dan notebook. Saya menuliskan banyak mimpi seperti : mendapat IPK bagus, ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi, memenangkan perlombaan, aktif di organisasi, pergi ke luar negeri, lulus tepat waktu, menjadi lulusan terbaik dll.
Semua itu pastinya sangat sukar untuk menggapainya, karna mewujudkan mimpi itu tak semudah membalikan telapak tanganTapi bermimpi itu gratis, mimpi itu tak terbatas, jadi mimpikanlah impian kita setinggi-tingginya!


Dan sekarang tinggal bagaimana cara kita menggapai mimpi itu, butuh perjuangan, usaha, jerih payah, keringat, dan kuat mental karena saat meraihnya kita akan dihadapkan dengan berbagai macam masalah. Saat pertama kali memasuki dunia kampus, kita akan dihadapkan pada dua pilihan, apakah kita akan menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) atau mahasiswa kura-kura (kuliah rapat kuliah rapat) yang aktif dalam berorganisasi. Dan jika saya ingin meraih mimpi saya, maka jalannya haruslah aktif di akademik maupun non akademik.
Satu langkah kecil saya ambil dengan mengikuti kursus di PBM (Pengembangan Bakat dan Minat) PBA, dalam bidang debat, pidato, menyanyi dan baca berita Bahasa Arab. Dan mengikuti Organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) PBA UNJ. Meski lelah karena setiap hari harus mengikuti latihan dan agenda kampus sekaligus mengajar di pesantren namun saya yakin semua usaha saya akan bermanfaat untuk kedepannya.
Pada awal semester 2016 saya memberanikan diri untuk ikut lomba debat Bahasa Arab tingkat Univ, meski ragu dan merasa masih kurang memumpuni karena masih mahasiswa baru dan harus melawan kakak kelas yang jauh lebih berpengalaman, namun saya niatkan perlombaan ini sebagai batu loncatan saya untuk menambah pengalaman walau nantinya harus kalah. Akan tetapi siapa sangka tim saya mendapatkan juara ketiga. Dari sini kita ketahui bahwa “if there is will there is a way”.
Saya kembali mengumpulkan tekad saya untuk bisa melangkah lebih maju lagi, yaitu dengan mengikuti lomba debat Bahasa Arab di tingkat nasional. Tentunya dengan latihan rutin bersama tim debat. Namun hasilnya kekalahan dan kegagalanlah yang kita terima.
Semester 2, semester 3, sampai semester 4 saya mencoba lagi mengikuti perlombaan tingkat nasional namun hasilnya sama, tim kita belumlah berhasil. Sempat terlintas di fikiran saya untuk menyerah karena ada masanya seseorang itu merasa terpuruk dan jatuh, lelah pada keadaan yang terus memaksakan diri untuk terus bergerak, dan seringnya dihadapkan pada pilihan yang sulit, memilih sesuatu sekaligus mengorbankan sesuatu. Seperti mengorbankan waktu istirahat, berkumpul dengan teman dan keluarga karena harus belajar, mengajar dan mengikuti kegiatan kampus. Namun semua itu saya urungkan. Tekad dan mimpi saya jauh lebih kuat dibandikan keputusasaan saya. Semangat  untuk kembali bangkit itu semakin membara kala mengingat orang yang kita sayangi sedang menunggu kesuksesaan kita yaitu keluarga.
Setiap kegagalan yang saya terima akan saya jadikan sebuah pelajaran untuk memperbaiki setiap kekurangan dan membenahi potensi diri. Dan pada semester 5 saya mencoba kembali mengikuti lomba debat Bahasa Arab tingkat univ, dan alhamdulillah tim saya berhasil membawa pulang piala juara kedua dan pemenangnya akan diseleksi untuk mengikuti lomba di MTQ N Aceh 2019. Pada semester kelima  juga kita berhasil mendapat juara ketiga dalam debat Bahasa Arab tingkat nasional dan untuk pertama kalinya alhamdulillah saya bisa memenangkan juara pertama lomba baca berita Bahasa Arab di tingkat nasional. Di akhir tahun 2018 pula alhamdulillah saya berhasil membawa 3 piala sekaligus di ajang perlombaan YALBI (Yaumul ‘Alam ‘Arabi) PBA UNJ.
Sesunggunya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, berlatih tanpa kenal lelah karna “practice make perfect” dan “experience is the best teacher”.
Dan mimpi yang tidak pernah disangka-sangka akan terwujud adalah bisa pergi ke Luar Negeri, alhamdulillah tim UNJ mendapat kesempatan untuk bisa mengikuti perlombaan di Qatar Debate 2019. Sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya karena mendapat kesempatan yang sangat berharga ini, namun sekaligus beban berat untuk saya dan tim saya  karena akan mewakilkan nama Indonesia di kancah Internasional.
Satu persatu mimpi saya terwujud, namun saya belumlah sampai pada tujuan akhir saya. Perjalanan ini masih sangat panjang. Semester 7 adalah puncaknya, saya ingin menyelesaikan studi saya 3,5 tahun, agar kedepannya saya bisa membantu finansial keluarga saya dan berharap bisa melanjutkan studi saya. Meski banyak rintangan dan hambatan saat menyelesaikan skripsi, tapi  alhamdulillah saya bisa berhasil menyelesaikannya tepat waktu dan mengikuti sidang skripsi. semua itu berkat bimbingan, dukungan dan do’a dari para dosen PBA, dosen pembimbing, keluarga dan teman-teman.
Sampai hari yang dinanti-nantikan itu datang, hari dimana dilaksankannya yudisium program sarjana dan magister fakultas bahasa dan seni. Yang mana acara ini bukan hanya sekedar yudisim saja namun juga sebagai ajang pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi lulusan FBS UNJ. Pertanyaan itu muncul kembali, apakah saya bisa menjadi salah satu yang terbaik di antara yang terbaik? Apakah jerih payah dan usaha saya selama ini dapat membuahkan hasil? Apakah saya bisa mewujudkan mimpi saya?
Pengumuman demi pengumuan telah dibacakan dari kategori penghargaan IPK tertinggi dan kategori KKM tertinggi. saya berdoa dalam hati saya, semoga nama saya bisa disebutkan, minimal meraih peringkat ketiga. Sampai di kategori terakhir yaitu penghargaan untuk lulusan terbaik FBS UNJ. Sayangnya peringkat 3 bukanlah saya orangnya, peringkat 2 juga bukanlah saya orangnya melainkan teman duduk samping saya, saya bangga atas pencapaian sahabat saya yang mana sekaligus teman seperjuangan saya. dan peringkat 1 dibacakan, saat itu pupuslah harapan saya karena saya berfikir sudah pasti bukanlah saya orangnya. Saya sadar, sangat sulit meraih peringkat lulusan terbaik 1 itu apalagi kategori ini adalah hasil dari kombinasi nilai IPA (Indeks Prestasi Akhir) tertinggi dan KKM (Kredit Keaktifan Mahasiswa) tertinggi dan peluangnya kecil jika dilihat dari banyaknya lulusan FBS pada semester ini. Sejujurnya seimbang antara nilai akademik dan non akadmik itu susah, kita harus aktif berorganisasi dan kegiatan kampus tanpa mengesampingkan belajar kita untuk mengejar IPK bagus.
Akan tetapi dugaan saya salah, nama Meryn Nurhidayani disebutkan di depan untuk menerima penghargaan lulusan terbaik 1 FBS. Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Seolah-olah seperti mimpi yang rasakan saat itu, menangis terharu karena rasa bahagia. Dream comes true lebih tepatnya.
Dan siapa sangka impian-impian yang dulu saya tulis itu semunya menjadi nyata dan jelas di depan mata. Sesunggunya usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
"بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى"
“Seberapa besar usahamu, maka sebesar itu pula yang akan kau dapatkan”
Usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha itu bohong. Setelah berusaha dan berdoa selanjutnya bertawakalah kepada Allah ikhlas menerima apapun hasilnya serta selipkan sholawat pada setiap harapan dan impian kita. We can dream the biggest dream, paint the largest picture and make endless possibilities come true.
Tulisan ini hanya sebagian dari kisah perjuangan saya, masih banyak lagi pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan di dunia perkuliahan. Akan tetapi, semoga tulisan ini dapat motivasi dan memberikan dorongan semangat untuk kalian dalam belajar, aktif di berbagai kegiatan,berprestasi dan terus mencari pengalaman, sukses untuk kita semua. Teruslah bermimpi kawan!, jangan pernah berhenti bermimpi!, believe in yourself that you can do it!


No comments: