Bermimpi itu gratis,
mimpi itu tak terbatas,
jadi mimpikanlah impian kita setinggi-tingginya!
WUJUDKAN MIMPIMU MENJADI NYATA
Oleh : Meryn Nurhidayanti, S.Pd.
(meryn.nurhidayani@gmail.com)
Berbicara
tentang mimpi tentunya setiap orang memiliki impian, harapan dan cita-citanya
masing-masing dan termasuk juga saya. Saya Meryn Nurhidayani yang mempunyai
banyak mimpi dan salah satu impian terbesar saya adalah membanggakan kedua orang tua saya dan mengangkat tinggi derajat mereka.
Karna saya adalah anak satu-satunya dan harapan satu-satunya di keluarga kecil
saya.
Lalu saya berfikir bagaimana
mewujudkan mimpi itu?
Dari kecil
saya bertekad dan berusaha untuk
bisa menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, berdiri sendiri tanpa harus
bergantung dengan orang yang lain, berjuang tanpa kenal putus asa dan rasa
takut, semua itu saya tanamkan dalam diri saya. Sampai hari dimana tangis
bahagia itu datang dari kedua orang tua saya yang bangga saat melihat anaknya
menjadi salah satu santri lulusan terbaik di pesantren. Saya bersyukur karna
salah satu mimpi saya menjadi kenyataan, namun dibalik semua itu perjuangan
yang sebenarnya baru dimulai dan impian itu semakin bertambah.
Karena saya
lulusan dari pesantren maka saya diharuskan mengabdi terlebih dahulu selama 1
tahun di Islamic Boarding School Mts N 31 Jakarta sebelum melanjutkan kuliah.
Sedih yang saya rasakan karena harus berpisah jauh dari orang tua dan tinggal
di kota. Pada awalnya saya juga khawatir, akankah menunda satu tahun itu bisa
menghambat kuliah saya?, namun semua itu “salah” tidak ada kata terlambat untuk
memulai sesuatu yang baik, apalagi untuk belajar. Dan selama satu tahun itu
saya gunakan untuk mengembangkan diri saya dengan belajar, mengajar dan
merencanakan hidup saya kedepannya, sehingga saya bisa memilih jalan mana yang
akan saya tempuh terutama akan dimanakah saya melanjutkan kuliah dan jurusan
apa yang saya akan ambil.
Satu langkah
awal saya adalah dengan mendaftarkan diri saya di kampus negeri, meski
kemungkinan bisa diterima itu kecil karna saya dari pesantren dan harus
bersaing melawan lulusan dari sekolah negeri di seluruh Indonesia, namun saya
tetap mencobanya. Dan alhamdulillah usaha itu dapat membuahkan hasil manis.
Saya memutuskan untuk tetap melanjutkan pengabdian saya sekaligus kuliah saya,
karena saya ingin membantu orang tua saya untuk meringankan beban biaya kuliah
saya dan karena mengajar merupakan tugas yang mulia, bahkan Iman al-Ghazali
mengumpamakan guru pengajar ibarat matahari sebagai sumber kehidupan dan
penerang di langit dan bumi. Akan tetapi kembali terbesit dalam benak saya,
apakah saya mampu membagi waktu saya untuk mengabdi di pesantren dan kuliah?
Jawabannya tergantung pada niat dan kenyakinan, maka dari itu saya
niatkan dan yakinkan diri saya, bahwa saya mampu dan bisa melakukannya.
"إنما الأعمال
بالنيات"
Setelah saya
diterima di kampus dan menjadi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab
Universitas Negeri Jakarta, saya bersyukur karena saya bisa mengambil jurusan
yang sesuai dengan passion saya, namun saya menyadari bahwa saya bukanlah
siapa-siapa, masih banyak diluar sana yang jauh lebih baik dari saya, sehingga
memotivasikan diri ini agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
Lalu saya
menulis daftar impian dan target tujuan hidup saya, apa yang saya harapkan saya
tulis di memo dan notebook. Saya menuliskan banyak mimpi seperti : mendapat IPK
bagus, ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi, memenangkan perlombaan, aktif
di organisasi, pergi ke luar negeri, lulus tepat waktu, menjadi lulusan terbaik
dll.
Semua itu pastinya sangat sukar
untuk menggapainya, karna mewujudkan mimpi itu tak semudah membalikan
telapak tangan. Tapi bermimpi itu gratis,
mimpi itu tak terbatas, jadi mimpikanlah impian kita setinggi-tingginya!
Dan sekarang tinggal bagaimana
cara kita menggapai mimpi itu, butuh perjuangan, usaha, jerih payah, keringat,
dan kuat mental karena saat meraihnya kita akan dihadapkan dengan berbagai
macam masalah. Saat pertama kali memasuki dunia kampus, kita akan dihadapkan
pada dua pilihan, apakah kita akan menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang
kuliah pulang) atau mahasiswa kura-kura (kuliah rapat kuliah rapat) yang aktif
dalam berorganisasi. Dan jika saya ingin meraih mimpi saya, maka jalannya
haruslah aktif di akademik maupun non akademik.
Satu langkah kecil saya ambil
dengan mengikuti kursus di PBM (Pengembangan Bakat dan Minat) PBA, dalam bidang
debat, pidato, menyanyi dan baca berita Bahasa Arab. Dan mengikuti Organisasi
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) PBA UNJ. Meski lelah karena setiap hari harus
mengikuti latihan dan agenda kampus sekaligus mengajar di pesantren namun saya
yakin semua usaha saya akan bermanfaat untuk kedepannya.
Pada awal
semester 2016 saya memberanikan diri untuk ikut lomba debat Bahasa Arab tingkat
Univ, meski ragu dan merasa masih kurang memumpuni karena masih mahasiswa baru
dan harus melawan kakak kelas yang jauh lebih berpengalaman, namun saya niatkan
perlombaan ini sebagai batu loncatan saya untuk menambah pengalaman walau
nantinya harus kalah. Akan tetapi siapa sangka tim saya mendapatkan juara
ketiga. Dari sini kita ketahui bahwa “if there is will there is a way”.
Saya kembali mengumpulkan tekad
saya untuk bisa melangkah lebih maju lagi, yaitu dengan mengikuti lomba debat
Bahasa Arab di tingkat nasional. Tentunya dengan latihan rutin bersama tim
debat. Namun hasilnya kekalahan dan kegagalanlah yang kita terima.
Semester 2, semester 3, sampai semester 4 saya mencoba lagi
mengikuti perlombaan tingkat nasional namun hasilnya sama, tim kita belumlah
berhasil. Sempat terlintas di fikiran saya untuk menyerah karena ada masanya
seseorang itu merasa terpuruk dan jatuh, lelah pada keadaan yang terus
memaksakan diri untuk terus bergerak, dan seringnya dihadapkan pada pilihan
yang sulit, memilih sesuatu sekaligus mengorbankan sesuatu. Seperti
mengorbankan waktu istirahat, berkumpul dengan teman dan keluarga karena harus
belajar, mengajar dan mengikuti kegiatan kampus. Namun semua itu saya urungkan.
Tekad dan mimpi saya jauh lebih kuat dibandikan keputusasaan saya. Semangat untuk kembali bangkit itu semakin
membara kala mengingat orang yang kita sayangi sedang menunggu kesuksesaan kita
yaitu keluarga.
Setiap
kegagalan yang saya terima akan saya jadikan sebuah pelajaran untuk memperbaiki
setiap kekurangan dan membenahi potensi diri. Dan pada semester 5 saya mencoba
kembali mengikuti lomba debat Bahasa Arab tingkat univ, dan alhamdulillah tim saya berhasil membawa
pulang piala juara kedua dan pemenangnya akan diseleksi untuk mengikuti lomba
di MTQ N Aceh 2019. Pada semester kelima
juga kita berhasil mendapat juara ketiga dalam debat Bahasa Arab tingkat
nasional dan untuk pertama kalinya alhamdulillah saya bisa memenangkan juara pertama lomba baca
berita Bahasa Arab di tingkat nasional. Di akhir tahun 2018 pula alhamdulillah saya berhasil
membawa 3 piala sekaligus di ajang perlombaan YALBI (Yaumul ‘Alam ‘Arabi) PBA
UNJ.
Sesunggunya kegagalan adalah
kesuksesan yang tertunda, berlatih tanpa kenal lelah karna “practice make
perfect” dan “experience is the best teacher”.
Dan mimpi yang
tidak pernah disangka-sangka akan terwujud adalah bisa pergi ke Luar Negeri, alhamdulillah tim UNJ
mendapat kesempatan untuk bisa mengikuti perlombaan di Qatar Debate
2019. Sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya karena mendapat kesempatan yang
sangat berharga ini, namun sekaligus beban berat untuk saya dan tim saya karena akan mewakilkan nama Indonesia di
kancah Internasional.
Satu persatu
mimpi saya terwujud, namun saya belumlah sampai pada tujuan akhir saya.
Perjalanan ini masih sangat panjang. Semester 7 adalah puncaknya, saya ingin
menyelesaikan studi saya 3,5 tahun, agar kedepannya saya bisa membantu
finansial keluarga saya dan berharap bisa melanjutkan studi saya. Meski banyak
rintangan dan hambatan saat menyelesaikan skripsi, tapi alhamdulillah saya bisa berhasil
menyelesaikannya tepat waktu dan mengikuti sidang skripsi. semua itu berkat
bimbingan, dukungan dan do’a dari para dosen PBA, dosen pembimbing, keluarga dan teman-teman.
Sampai hari
yang dinanti-nantikan itu datang, hari dimana dilaksankannya yudisium program
sarjana dan magister fakultas bahasa dan seni. Yang mana acara ini bukan hanya
sekedar yudisim saja namun juga sebagai ajang pemberian penghargaan kepada
mahasiswa berprestasi lulusan FBS UNJ. Pertanyaan itu muncul kembali, apakah
saya bisa menjadi salah satu yang terbaik di antara yang terbaik? Apakah jerih
payah dan usaha saya selama ini dapat membuahkan hasil? Apakah saya bisa
mewujudkan mimpi saya?
Pengumuman demi pengumuan telah
dibacakan dari kategori penghargaan IPK tertinggi dan kategori KKM tertinggi.
saya berdoa dalam hati saya,
semoga nama saya bisa disebutkan, minimal meraih peringkat ketiga. Sampai di
kategori terakhir yaitu penghargaan untuk lulusan terbaik FBS UNJ. Sayangnya
peringkat 3 bukanlah saya orangnya, peringkat 2 juga bukanlah saya orangnya
melainkan teman duduk samping saya, saya bangga atas pencapaian sahabat saya
yang mana sekaligus teman seperjuangan saya. dan peringkat 1 dibacakan, saat
itu pupuslah harapan saya karena saya berfikir sudah pasti bukanlah saya
orangnya. Saya sadar, sangat sulit meraih peringkat lulusan terbaik 1 itu
apalagi kategori ini adalah hasil dari kombinasi nilai IPA (Indeks Prestasi Akhir) tertinggi dan
KKM (Kredit Keaktifan
Mahasiswa) tertinggi dan peluangnya kecil jika dilihat dari banyaknya
lulusan FBS pada semester ini. Sejujurnya seimbang antara nilai akademik dan
non akadmik itu susah, kita harus aktif berorganisasi dan kegiatan kampus tanpa
mengesampingkan belajar kita untuk mengejar IPK bagus.
Akan tetapi dugaan saya salah,
nama Meryn Nurhidayani disebutkan di depan untuk menerima penghargaan lulusan
terbaik 1 FBS. Alhamdulillah ‘ala
kulli haal. Seolah-olah seperti mimpi yang rasakan saat itu, menangis terharu
karena rasa bahagia. Dream comes true lebih tepatnya.
Dan siapa sangka impian-impian
yang dulu saya tulis itu semunya menjadi nyata dan jelas di depan mata. Sesunggunya usaha tidak pernah
mengkhianati hasil.
"بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى"
“Seberapa besar usahamu, maka sebesar itu pula yang akan kau
dapatkan”
Usaha tanpa doa itu sombong dan doa tanpa usaha
itu bohong. Setelah
berusaha dan berdoa selanjutnya bertawakalah kepada Allah
ikhlas menerima apapun hasilnya serta selipkan sholawat pada setiap harapan dan
impian kita. We can dream the biggest dream, paint the largest picture
and make endless possibilities come true.
Tulisan ini hanya sebagian dari kisah
perjuangan saya, masih banyak lagi pengalaman dan pembelajaran yang saya
dapatkan di dunia perkuliahan. Akan tetapi, semoga tulisan ini dapat motivasi dan memberikan
dorongan semangat untuk kalian dalam belajar, aktif di berbagai
kegiatan,berprestasi dan terus mencari pengalaman, sukses untuk kita semua. Teruslah
bermimpi kawan!, jangan pernah berhenti bermimpi!, believe in yourself that you can do it!

No comments:
Post a Comment