“BUANG
MALESNYA!” Setiap Kali Merasa Nge-Down dan Ngeluh
Karna Skripsi yang Tak Kunjung Selesai
Karna Skripsi yang Tak Kunjung Selesai
Oleh : Tutik Cholisotin (tutikcholisotin@gmail.com)
Semenjak saya memasuki jenjang
Madrasah Aliyah, dari situlah pikiran saya semakin terbuka untuk memikirkan
masa depan, keinginan bisa kuliah di PTN mulai muncul, keinginan untuk selalu
mendapatkan juara kelas saat itu juga semakin tertanam dalam diri. Naik kelas
11 keinginan untuk bisa kuliah semakin menjadi, dan selama sekolah saya selalu
bersemangat untuk mendapatkan nilai bagus dan peringkat di kelas. Jujur, saya
bukanlah anak yang cerdas, setiap kali akan menghadapi ulangan atau ujian saya
harus benar-benar meluangkan waktu untuk mereview pelajaran. Beda dengan temen2
yang memang notabene nya pintar, ketika ujian tanpa belajar bisa mendapatkan
nilai bagus, tapi saya tidak. saya butuh waktu untuk sendiri dan mengulang
pelajaran sampai bener2 paham. Lulus dari MA Alhamdulillah saya diterima di
kampus Negeri, yang bertempat di Ibu Kota dan jauh dari keluarga. Bermodalkan
niat dan izin dari orang tua saya berangkat seorang diri merantau ke Jakarta.
Masih teringat betul tangis ibu saat pertama kali berpisah di stasiun, hari itu
pula saya berjanji dalam hati akan belajar sungguh-sungguh mencari ilmu dan
akan membuatnya bangga suatu hari nanti. Satu semester berjalan semuanya
terlampaui dengan baik, saya mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan, kampus,
dan teman-teman baru selama kuliah.
Hari-hari menjadi mahasiswa baru
saya menikmati proses belajar di dunia perkuliahan, membeli binder, dan tak
lupa mengisi tempat pensil dengan stabilo, pulpen warna-warni dan sticky note
size 7x7 cm. selalu mencatat setiap penjelasan yang dosen sampaikan dan
meresume materi di kertas adalah hobi tersendiri. Suka bingung kalau ditanya
orang hobinya apa, karna ngga punya hobi yang pasti. Dulu sempet suka baca
novel, lalu berubah jadi suka nulis, dan sekarang netral. Kalau untuk menghadapi
UTS dan UAS saya paling suka baca dari tulisan sendiri, terkecuali memang
pelajarannya kita sudah betul-betul paham cukup dibaca ulang dari buku cetak
yang ada. Tapi kalau untuk materi yang banyak dan waktu belajar yang minim saya
selalu meresume satu minggu sebelum jadwal UTS/UAS itu tiba, yang saya inget
saat UAS mata kuliah PPBA (Perencanaan Pengajaran Bahasa Arab) di semester 3,
bukunya tebal dan materi yang dikeluarkan dari awal sampai akhir. Membayangkan
merangkum satu buku penuh adalah hal yang menjenuhkan, tapi saya paksakan.
Tepat satu minggu sebelum UAS saya meresume dari bab 1-terakhir dengan bahasa
sendiri dan hanya saya tulis kata kuncinya. Kalau tidak salah dari 1 buku jadi
5 lembar bolak-balik kertas HVS putih. Dan saat ujian tiba .. ya Allah
senengnya, soal yang keluar semuanya ada di rangkuman yang saya buat.
Alhamdulillah menjawab soal jadi mengalir seperti menyusun essay. Hehe ..
Setiap orang pasti punya cara dan versi belajarnya masing-masing, dan seperti
yang saya katakan di awal. Saya bukanlah orang yang cerdas, jadi untuk
menghadapi UTS/UAS saya harus mempersiapkannya dengan matang, belajar
kebut-kebutan, bahkan begadang adalah rutinitas selama pekan ujian.
Untuk organisasi saya pernah
mengikuti Organisasi LDF selama dua periode, dan saya bukan pengurus BEM. Untuk
menghadapi Skripsi yang kata mahasiswa adalah hal paling menakutkan, memang
dibutuhkan niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Awal semester 7 saya selalu
minta do’a ke orang tua agar proses menyusun skripsi dan bimbingan diberi
kelancaran. Salah kalau kita selalu berharap hasil yang baik dengan proses yang
lancar pula, pasti ada masa sulit yang harus terlewati. Bulan kedua bimbingan
skripsi semangat saya mulai naik turun, merasa takut kalau tidak berhasil
menyelesaikan skripsi di semester ini. Tanggal 27 Desember 2019 saat itu pula
saya tulis note di layar HP “Semangat
skripsian. Cepet selesai cepet wisuda. Januari selesai Maret Wisuda. Kamu
Wisuda keluarga ke Jakarta. BUANG MALESNYA!” Setiap kali merasa nge-down atau
ngeluh karna skripsi yang tak kunjung selesai saya buka layar hp agar
kembali bersemangat. Kunci dari
bimbingan adalah Rajin. Rajin ke perpus, nyari jurnal, nyari tambahan
referensi, dan usahakan buka laptop setiap hari. Jangan lupa buat targetan
selama menyusun skripsi, misalnya : akhir bulan November harus selesai bab 3.
Pekan pertama bulan Desember harus selesai bab 4, dst. Mau tidak mau skripsi
harus diprioritaskan, dan jangan lupa cari teman yang bisa saling ngasih
semangat selama proses menyusun skripsi. Rajin konsultasi ke dosen pembimbing,
jangan takut untuk bimbingan, dan usahakan setiap pekan selalu ada jadwal
menemui dospem. Beberapa hari sebelum sidang saya off mengajar privat, dan
berusaha fokus untuk memahami skripsi yang telah selesai saya susun. Rasa takut
pasti ada, tapi dengan do’a dan selalu semangat untuk berusaha yang terbaik,
berkat dukungan orang tua, kedua dosen pembimbing yang sudah memberikan banyak
waktunya dan sangat sabar dalam membimbing saya, dan juga teman-teman yang
selalu memberikan motivasi, Alhamdulillah semua proses bisa terlewati dengan
baik. Dulu bisa lulus 3,5 tahun adalah mimpi, Tapi maha baiknya Allah yang
membuatnya nyata saat ini. Saya bisa, kamu apalagi! SEMANGAT!!
No comments:
Post a Comment